Citra diri vs kiprah diri perempuan

Perempuan adalah makhluk sosial. Dia tidak dapat hidup tanpa berinteraksi dengan pihak lain. Beragam interaksi dilakukannya dalam berbagai segi kehidupan antara lain interaksi sosial, ekonomi maupun politik. Dinamika interaksi yang dilakukan dalam berbagai segi kehidupan itu memunculkan beragam kejadian. Kejadian kejadian itu bisa bernilai positip maupun negatip. Karena kejadian adalah buah dari sang pelakunya, maka nilai positip ataupun negative kejadian itu berimbas kepada pelakunya. Nah, disinilah muncul apa yang disebut citra diri. Citra diri merupakan pandangan kita dalam berbagai peran yang mencerminkan watak kepribadian kita (sebagai mahasiswi,wanita karier, politisi, dll). Ini merupakan citra diri dari sudut pandang kita (ellopedia). Disisi lain, pihak luar pun memiliki gambaran tentang  diri kita yang bisa jadi sama atau mungkin berbeda dengan citra diri dalam benak kita.
Adalah hal yang wajar bila seorang perempuan selalu berusaha memperbaiki citra dirinya. Karena perbaikan citra diri yang terus menerus merupakan fitrah manusia. Seorang pendidik berusaha memperbaiki citra dirinya dengan terus menimba ilmu. Seorang wanita karier meningkatkan citra dirinya dengan bekerja secara professional. Seorang ibu rumah tangga memperbaiki citra dirinya dengan bersosialisasi lebih baik dengan tetangganya. Seorang mahasiswi citra dirinya ia tingkatkan dengan memperkaya wawasan keilmuannya. Bahkan Cinderella pun mematut matut diri di depan kaca. Untuk apa ? citra diri.
Apa yang terurai di atas merupakan proses peningktan citra diri yang wajar dan positip. Karena ikhtiar ikhtiar yang dilakukan melibatkan aspek intelektual dan karakter yang menyentuh aspek yang hakiki. Namun tidak jarang sebagian perempuan membutuhkan aspek aksesoris untuk melengkapi kesempurnaan citra diri mereka. Aksesoris ini lebih bersifatfisik, penunjang, bahkan seringkali tidak prinsip.
Seorang wanita pengusaha menyempurnakan citra dirinya dengan sebuah mobil mewah meskipun tanpa mobil mewahpun mungkin citra dirinya tidak terganggu. Seorang mahasiswi mengekspose citra dirinya dengan menenteng PC tablet 7 inchi sambil berjalan melenggang meskipun sebenarnya tablet itu bisa dimasukkan di dalam tas. Seorang ibu rumah tangga yang kaya menyempurnakan citra dirinya (red: gengsi) dengan menyekolahkan anaknya di sekolah yang mahal (yang memang terbukti berkualitas) meski mungkin ada sekolah yang cukup berkualitas dan tidak semahal itu. Sehingga sering terdengar ungkapan,” Iya nih,jeng,SPP anak saya mahal.”  Dimana maksud sebenarnya bukan menginformasikan besaran spp anaknya, tapi untuk menunjukkan citra dirinya sebagai orang kaya.
Namun, akankah abadi citra diri tersebut? Interaksi perempuan dalam berbagai segi kehidupan bukan hanya berlangsung sehari dua hari, setahun dua tahun. Interaksi tersebut bisa berlangsung cukup lama. Persepsi yang diberikan orang lain kepada kita bisa tetap, naik atau bahkan sebaliknya.Ketika aspek aspek hakiki dalam pembentukan citra diri terus dipertahankan,maka kemungkinan menurunnya citra diri akan kecil. Usaha tak kenal henti untuk menuntut ilmu baik ilmu agama maupun ilmu dunia baik  melalui jalur formal maupun informal serta menjaga budi pekerti seorang perempuan merupakan diantara banyak langkah yang diperlukan.
Dinamika kehidupan terus berkembang. Hidup tidak terus berjalan mulus. Jalan hidup tidaklah linier. Tekanan hidup pun bisa datang silih berganti. Pengalaman hidup masa lalu dan masa kini, kegagalan dan kesuksesan akan banyak mewarnai seorang perempuan dalam menaik turunkan citranya. Bahkan dalam waktu dan situasi yang tak terduga citra bisa berubah dengan cepatnya. Seorang perempuan yang dulunya terkenal santun bisa berubah jadi tak bermoral. Seorang pedagang wanita yang dulunya terkenal jujur, predikat itu bisa lenyap dengan tiba tiba. Seorang ibu rumah tangga yang terkenal penyabar, bisa mendadak menjadi pelaku utama KDRT
Ketidaksiapan seorang perempuan dalam mempertahankan citra dirinya bisa juga muncul bukan karena tekanan hidup, tapi justru datang dari obsesi kehidupannya. Di negeri antah berantah, seorang perempuan politisi yang sebelumnyabercitra relative baik di mata sebagian masyarakat dengan kepeduliannya kepada komunitas buruh, pada titik tertentu terlindas oleh obsesinya sendiri ketika dia tergelincir dalam sebuah kompetisi politik meski sudah menempuh berbagai cara termasuk kecurangan.
Jadi, ketika upaya perbaikan citra diri dilakukan dengan semestinya, maka hasilnya relative akan sesuai yang diharapkan. Namun ketika upaya pencitraan diri lebih mendominasi jangan harapkan yang positip di penghujungnya. Karenapencitraan lebih tidak bersifat hakiki. Banyak aksessoris dan topeng yang meliputinya. Jalan pintas, ketidakjujuran,kepalsuan, sering digunakan untuk mendongkrak citra dirinya.Sehingga dalam media, hampir tiap hari kita dengar, “ah,itu kan cuma pencitraan .” karena memang pencitraan lebih bermakna negative. Mungkin orang lain bisa saja terkecoh oleh pencitraan yang dilakukannya. Namun yakinlah hal itu tidak akan membantu dalam jangka panjang.
Maka , jadilah perempuan yang mampu menjaga citra diri yang hakiki, tanpa pencitraan. Setiap orang hanya akan terlihat citranya terjaga ketika dia teruji dalam berbagai medan, dalam kurun yang terus berjalan, dan dalam situasi yang biasa dan situasi yang tidak biasa.   
Lalu, kapan dan bagaimana perempuan harus berkiprah ?
Perempuan sebagaimana laki – laki juga membutuhkan aktualisasi diri mereka. Mereka secara naluriah ingin berkiprah dalam gelanggang kehidupan. Kiprah mereka ada yang lebih fokus melibatkan fisik seperti para relawan misalnya, fokus ke pemikiran, fokus ke masalah spiritual, ataupun ketiganya.
Kiprah diri yang mereka lakukan biasanya merupakan perwujudan dari ideology, cita cita atau pemikiran yang disandangnya. Sehingga tidak heran ketika kita melihat seorang perempuan misalnya, yang mendedikasikan diri untuk hal hal yang sepintas “tidak masuk akal” seperti mendidik anak anak miskin di kampung pemulung dengan meninggalkan profesi dia yang telah mapan dan contoh contoh yang lain. Mereka mampu melakukan itu karena ada pendorong yang kuat dalam jiwa mereka. Mereka bisa terdorong karena motif sosial belaka. Mereka pun bisa terdorong karena factor ideologis entah sosialisme, marhainisme, marxisme atau isme yang lain.

 

Lalu, bagaimana dengan kita perempuan muslimah ?
Allah berfirman dalam QS At Taubah 106,yang artinya,”Dan katakanlah,” Beramallah kamu, maka Allah, Rasul Nya dan orang – orang beriman akan melihat amalmu itu…”
Inilah yang seharusnya menjadi spirit utama penggerak segala amaliyah kita. Kita diperintahkan untuk menyegerakan beramal bukan berleha leha, bertele tele, bermalas malas, apalagi menikmati kegalauan kita. Masalah waktu menjadi sangat penting. Waktu tidak dapat diulang . Kita tidak disediakan mesin pemutar waktu.
Jangan menunggu kesempurnaan untuk memulai sesuatu. Bahkan tidak jarang terjadi, sesuatu yang semula terkesan kecil, terkesan sederhana, suatu ketika akan bernilai tinggi bahkan menjadi pelopor karena ketika kita memulainya di masa lalu, dalam keadaan tepat waktu, ketika orang lain belum melakukannya, bahkan belum memikirkannya bahwa hal itu ada.
Dalam proses kiprah diri itu selalu ada ,pembelajaran. Proses pembelajaran yang terus menerus akan semakin mendekatkan kepada kesempurnaan. Sehingga apa yang diisyaratkan Allah dalam bagian ayat tersebut ,”…………dan orang – orang beriman akan melihat amalmu itu.” mereka akan melihat dan merasakan kiprah nyata kita sehingga merekapun akan menilai citra diri kita.  Maka, janganlah terlalu disibukkan dengan citra diri , sehingga melupakan kiprah diri. Tapi sibukkanlah dengan kiprah diri kita, maka citra diri akan mengikuti.
Syahidah Peduli
Penulis
Intan Yuliani
Intan Yuliani
Founder As Syahidah Foundation

Renungan Tentang Pendidikan Karakter di Hari Pendidikan Nasional

pendidikan-karakter2

Pendidikan adalah elemen penting dalam pembangunan bangsa, karena melalui pendidikan, dasar pembangunan karakter manusia dimulai. Masih hangat dalam pikiran kita, dulu dibekali dengan pendidikan karekter bangsa semacam PMP dan PSPB hingga berlanjut dengan model Penataran P4. Pendidikan karakter diperkukan untuk mempertahankan jati diri bangsa.Namun sayang, pendidikan karakter belum sampai tahap internalisasi atau tindakan nyata.

Pendidikan di Indonesia saat ini lebih mengedepankan aspek peningkatan kognitif serta mengesampingkan pembangunan karakter. Sebagian orang mulai tidak memperhatikan lagi, bahwa pendidikan tersebut berdampak pada perilaku seseorang. Padahal pendidikan sebenarnya diharapkan mampu menghadirkan orang yang berkarakter kuat karena pada dasarnya manusia dapat dididik dan harus sejak dini. Meski manusia memiliki karakter bawaan, namun bukan berarti karakter itu tidak dapat diubah. Perubahan karakter membutuhkan perjuangan yang berat serta latihan yang terus menerus untuk menghidupkan nilai – nilai yang baik.

Berdasarkan sebuah penelitian, Hecmen menyimpulkan kecerdasan kognitif saja tidak cukup untuk membuat seseorang berhasil dalam hidup. Sukses seseorang juga ditentukan oleh kecerdasan non kognitif ( sosio emosional, mental, ketekunan, motivasi, percaya diri ). Semua kemampuan itu dapat diubah jika rangsangan untuk itu diberikan sejak usia dini.

Penelitian tentang perkembangan otak : kualitas kecerdasan dan karakter sangat ditentukan oleh asupan yang dibetikan pada usia 0-4 tahun (50%), 4 – 8 tahun (30%), 9-17 tahun (20%). Karena itu usia 0-8 tahun disebut sebagai “golden age “.Kegagalan dalam memaknai betapa pentingnya masa emas ini terbukti membawa bencana kemanusiaan di kemudian hari di kalangan anak, remaja bahkan dewasa.

Dalam tataran kenyataan di lapangan, kita jumpai betapa kendala implementasi pendidikan karakter usia dini sehingga optimalisasi dari pendidikan karakter belum begitu dirasakan. Hal ini dapat dirasakan dari output yang dihasilkan. Seolah – olah tidak ada output yang spesial dari karakter – karakter khas yang muncul dari anak didik dalam keseharian meteka. Hal ini dapat terjadi karena beberapa kendala antara lain sebagai berikut :

Kendala pertama adalah kurangnya wawasan dan kesadaran orang tua untuk memilih pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Mereka berpandangan bahwa tidak ada perbedaan yang berarti antara pihak penyelenggara pendidikan yang satu dengan yang lain dalam hal pendidikan karakter. Padahal kenyataannya tidak demikian. Penyelenggara pendidikan yang secara sepintas ada pada “strata ” yang samapun dapat menghasilkan output anak didik yang berbeda karena menerapkan metode yang berbeda.Oleh karena itu, sebagai pihak orang tua hendaklah terus berupaya memperluas wawasan mereka akan perkembangan dunia pendidikan.

Kendala yang lain berasal dari pihak penyelenggara pendidikan. Tidak sedikitpun para penyelenggara pendidikan lebih memilih tetap berada pada zona “aman”. Usaha-usaha untuk terus mengasah dir dan memperbaiki diri tidak atau kurang tampak dilakukan. Memang, pada dasarnya semua jenjang pendidikan yang dimulai dari TK, SD dan seterusnya, aspek pendidikan karakter sudah tercakup di dalamnya. Problemnya adalah sejauh mana pemilihan dan penerapan metode yang tepat telah dilakukan sehingga efektifitasnya terlihat. Dengan demikian istilah pendidikan karakter bukan hanya terdengar lebih sebagai “latah” yang sering diucapkan para penyelenggara pendidikan dibandingkan essensi sesungguhnya.Hendaklah penyelenggara pendidikan terus mengikuti perkembangan dunia pendidikan baik melalui jalur formal maupun informal dan terus mengupayakan peningkatan kualitas pendidikan pada lembaganya termasuk dalam pemilihan metode pendidikan yang baik.

Kendala berikutnya adalah aspek keteladanan.Tidak jarang terjadi, aspek keteladanan yang tidak diindahkan yang ditunjukkan oleh para pelaku pendidikan dalam hal ini guru dapat mencederai kepercayaan masyarakat yang menaruh harapan besar kepada mereka. Sebagian kalangan masyarakat akan mempertanyakan ketidaksinkronan antara perilaku mereka dengan misi pembangunan karakter yang dibawa lembaganya.Apalagi jika hal ini dijumpail pada lembaga pendidikan yang baik dalam motto, misi maupun metode sangat menekannkan aspek pembangunan karakter.

Kendala selanjutnya, belum meratanya kualitas dalam implementasi pembangunan karakter oleh para penyelenggara pendidikan pada jenjang berikutnya sehingga masyarakat merasa ada nya keterbatasan dalam menentukan pilihan bagi anaknya yang telah selesai pada jenjang sebelumnya. Mereka menghendaki agar kualitas karakter yang telah didapatkan di jenjang pendidikan tertentu akan dapat terus berlanjut pada jenjang berikutnya. Sebaliknya, mereka tidak ingin asset positif yang sudah terbentuk lambat laun hilang karena salah menentukan sekolah bagi anaknya.

Dalam perkembangannya meskipun belum dalam skala yang massiv peningkatan kesadaran orang tua untuk mengikuti perkembangan dunia pendidikan semakin meningkat.Sehingga di lapangan tidak jarang terjadi misalnya, orang tua murid memindahkan anaknya yang duduk di TK atau SD lembaga yang lain setelah melihat bahwa terlihat perbedaan kualitas di antara keduaya dalam hal pembangunan karakter bagi anak – anak mereka. Semakin meningkat kesadaran orag tua akan semakin banyak fenomena seperti ini terjadi.Ini merupakan proses alamiah yang harus dimaknai bahwa sudah saatnya para penyelenggara pendidikan secara serius memikirkan upayapeningkatan kualitas mereka secara berkelanjutan, jangan berpuas diri pada zona ” aman ” yang ada. Bisa jadi zona ” aman ” tersebut suatu saat nanti menjadi zona “tidak aman ” bagi mereka dan merekapun akan terlindas oleh zaman.

Syahidah Peduli

http://intanyuliani-harapan.blogspot.com/2013/05/renungan-tentang-pendidikan-karakter-di.html

Rekrutmen PNS, Pemkot Tangerang Dahulukan Pegawai Honorer

TANGERANG-Tahun ini, Kementerian Aparatur Negara membuka kembali keran Pegawai Negeri Sipil (PNS) serempak diseluruh wilayah. Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang sendiri mendahulukan sebanyak 2.821 pegawai honorer kategori II (K2) untuk seleksi penerimaan PNS dengan quota 200 orang.

“Memang dibuka pada September tahun ini, namun kami dahulukan tenaga honorer K2 yang mencapai 2.821 orang. Tapi tidak semua golongan K2 bisa diterima menjadi PNS. Untuk itu akan ada seleksi atau test untuk menjadi PNS dan masuk pada formasi kepegawaian Kota Tangerang,” ujar Sekda Kota Tangerang Harry Mulya Zein, Kamis (16/5).
Sementara Kepala Bidang Pengembangan Karir Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Tangerang  Jatmiko mengatakan, sebelumnya Pemkot Tangerang sudah mengajukan permohonan formasi ke pemerintah pusat sebanyak 5.000 PNS untuk penerimaan tahun ini. Namun berdasarkan pengalaman, dari 5.000 permintaan formasi, setiap daerah hanya diberi kuota 200 orang saja.
“Kami memang mendahulukan honorer K2, namun permintaan dengan realisasi tidak pernah singkron. Jadi tidak semua K2 akan jadi PNS, akan ada seleksi lagi,” pungkasnya.
Dari 5.000 formasi PNS yang diminta Kota Tangerang, Jatmiko mengatakan,  547 orang diantaranya direncanakan untuk mengisi kepegawaian di RSUD Kota Tangerang.
 Walau demikian, tetap tidak akan diistimewakan, baik 500 orang pegawai RSUD tersebut akan mengikuti seleksi yang sama dengan ribuan K2 lainnya.
“Sama-sama ikut test, tapi tetap 547 tenaga pegawai RSUD Kota Tangerang sudah kami ajukan formasi PNS yang kami butuhkan ke Menteri Aparatur Negara. Keputusannya, ya lihat akhir tahun ini,” pungkas Jatmiko.(RAZ)
sumber: tangerangnews.com

DPRD Kota Tangerang Sahkan Raperda Pengelolaan Kualitas Air

TANGERANG- DPRD Kota Tangerang menetapkan Raperda Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2005-2013 dan Raperda Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Pansus II DPRD Kota Tangerang, Yahanis Batha memberikan apresiasi kepda Pemkot Tangerang karena berdasarkan hasil evaluasi terhadap seluruh program pembangunan yang telah dilaksanakan selama periode 2008-2013, telah banyak dirasakan oleh masyarakat.
“Untuk itu, Pansus II meminta agar periode wali kota yang akan datang dapat lebih memperhatikan tahapan prioritas pembangunan lima tahunan dalam bentuk RPJMD sehingga program pembangunan dapat sesuai dengan visi dan misi yang tertuang dalam RPJPD,” ujarnya saat Rapat Paripurna DPRD Kota Tangerang Dalam Rangka Pengambilan Keputusan tentang Raperda RPJPD 2005-2013 dan Raperda Tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air, Rabu (15/05).
Sementara itu, Pansus III yang membahas Raperda Tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air, Fauzan Manafi Albar mengatakan, bahwa raperda itu  dibuat dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat tentang air bersih dan sekaligus untuk mendukung program MDGs.
“Karenanya, Pemkot wajib memfasilitasi atau membangun instalasi pengelolaan air limbah di kawasan pemukiman secara bertahap,” tukasnya.
Fauzan menambahkan, dinas terkait juga harus mendorong pelaku usaha untuk memiliki pengelola IPAL yang bersertifikasi Manajer Pengendalian Pencemaran Air (MPPA).
Selain itu, pengelola permukiman, Rumah Sakit, Rumah Makan, Restoran, Perkantoran, Perniagaan, Apartemen, Hotel dan Asrama wajib membuang air limbah pada Instalasi Pengelolaan Air Limbah dan pengelola Cluster Perumahan skala kecil diwajibkan menggunakan Septic Tank yang ber-SNI.
“Adapun dalam menerbitkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) berskala besar, Pemkot harus memperhatikan Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL),” paparnya.
Wakil Wali kota Tangerang Arief R Wismansyah mengatakan bahwa dengan ditetapkannya dua raperda tersebut diharapkan agar pelaksanaan pembangunan daerah dapat terarah, berkesinambungan, efektif dan efesien serta memenuhi kepentingan masyarakat yang merupakan harapan Pemkot.
“Terkait dengan berbagai kesepakatan yang dihasilkan melalui tahapan pembahasan pansus maupun rapat gabungan, senantiasa dilandasi oleh adanya kesamaan visi dan misi Kota Tangerang. Untuk itu, saya juga mengucapkan terima kasih dan apresiasi terhadap pansus dan seluruh anggota dewan yang telah bekerja keras dalam membahas dan menetapkan raperda tersebut,” katanya.(RAZ)
sumber: tangerangnews.com

Peran Pemuda

“Beri aku sepuluh pemuda maka akan ku guncangkan dunia”, itulah perkataan founding father Presiden Pertama Indonesia yang menegaskan betapa pentingnya peran pemuda dalam kemajuan bangsa dan Negara.  Baik buruknya suatu Negara dilihat dari kualitas pemudanya, karena generasi muda adalah penerus dan pewaris bangsa dan Negara.  Generasi muda  harus mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya, memiliki kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, berjiwa saing, mampu memahami pengetahuan dan teknologi untuk bersaing secara global. Pemuda juga perlu memperhatikan bahwa mereka mempunyai fungsi sebagai Agent of change, moral force and social control sehingga fungsi tersebut dapat berguna bagi masyarakat.
Dalam sejarah pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia, pemuda selalu mempunyai peran yang sangat strategis di setiap peristiwa penting yang terjadi. Ketika memperebutkan kemerdekaan dari penjajah belanda dan jepang kala itu, ketika menjatuhkan rezim Soekarno (orde lama), hingga kembali menjatuhkan rezim Soeharto (orde baru), pemuda menjadi tulang punggung bagi setiap pergerakan perubahan ketika masa tersebut tidak sesuai dengan keinginan rakyat.  Pemuda akan selalu menjadi People make history (orang yang membuat sejarah) di setiap waktunya. Pemuda memang mempunyai posisi strategis dan istimewa. Secara kualitatif, pemuda lebih kreatif, inovatif, memiliki idealisme yang murni dan energi besar dalam perubahan sosial dan secara kuantitatif, sekitar 30-40 % pemuda dari total jumlah penduduk Indonesia dalam kisaran umur 15-35 tahun dan akan lebih besar lagi jika kisaran menjadi 15-45 tahun.
Saya melihat bahwa pemuda akan lebih bersifat kreatif untuk melakukan pergerakan ketika kondisi atau suasana di sekitarnya mengalami kerumitan, terdapat banyak masalah yang di hadapi yang tidak kunjung terselesaikan. Di satu sisi, ketika suasana di sekitarnya terlihat aman dan tentram tidak ada masalah serius yang dihadapi, pemuda akan cenderung diam/pasif, tidak banyak berbuat, lebih apatis  dan mempertahankan kenyamanan yang dirasakan. Padahal baik dalam kondisi banyak permasalahan ataupun kondisi tanpa masalah serius, pemuda dituntut lebih banyak bergerak dalam membuat perubahan yang lebih baik, lebih produktif dan lebih kreatif dalam memikirkan ide-ide perubahan untuk bangsa yang lebih baik.
Saya melihat kondisi pemuda Indonesia saat ini, mengalami degradasi moral, terlena dengan kesenangan dan lupa akan tanggung jawab sebagai seorang pemuda. Tataran moral, sosial dan akademik,  pemuda tidak lagi memberi contoh dan keteladanan baik kepada masyarakat sebagai kaum terpelajar, lebih banyak yang berorientasi pada hedonisme (berhura-hura), tidak banyak pemuda yang peka terhadap kondisi sosial masyarakat saat ini, dalam  urusan akademik pun banyak mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka adalah insan akademis yang dapat memberikan pengaruh besar dalam perubahan menuju kemajuan bangsa.
Sebagai seorang pemuda menjadi kebanggan tersendiri bagi saya lahir di hari “Sumpah pemuda” 28 Oktober 1990 silam.  Terlahir di hari “Sumpah pemuda” memberi saya motifasi luar biasa untuk memberi kontribusi besar dalam pembinaan pemuda dan ini saatnya bekerja untuk Indonesia menuju kemajuan bangsa yang lebih baik. Dengan melihat degradasi moral dikalangan pemuda Indonesia saat ini membuat saya berperan aktif dalam pembinaan moral dikalangan pemuda/pelajar Makassar. Melalui proses mentoring dengan pendekatan nilai-nilai rohani dalam penggabungan tiga aspek kecerdasan manusia (IQ, SQ, EQ). Semoga ini menjadi tahap awal dalam membentuk generasi mudah yang berguna bagi nusa dan bangsa. MAJU PEMUDA INDONESIA UNTUK PERADABAN LEBIH BAIK !

Kesehatan Masyarakat

Kondisi kesehatan masyarkat Indonesia pada saat ini bisa dikatakan dalam kondisi yang sudah semakin membaik, meskipun masih ada sebagian masyarakat yang yang hidup jauh dari pola hidup sehat. Membaiknya kesehatan masyarakat merupakan manifestasi dari info dari media masa yang sering memberikan informasi edukatis sehingga masyarakat terdidik secara otomatis. Pentingnya kesehatan masyarakat membuat dinas pendidikan membuat ilmu atau fakultas yang khusus menangani kesehatan masyarakat. Harapan pemerintah pada perkuliahan yang mmebahas tentang kesehatan masyarakat kedepannya mampu membawa masyarakat yang sehat dan cerdas dalam menjaga kesehatannya sendiri dan keluarga.

Ilmu kesehatan masyarakat memiliki artian, sebagai ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, dan efisiensi melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk meningkatkan sanitasi lingkungan, kontrol infeksi di masyarakat, pendidikan individu tentang kebersihan perorangan, pengorganisasian pelayanan medis dan perawatan, untuk diagnosa dini, pencegahan penyakit dan pengembangan aspek sosial, yang akan mendukung agar setiap orang di masyarakat mempunyai standar kehidupan yang kuat untuk menjaga kesehatannya.

Salah satu ruang lingkup ilu kesehatan masyarakat yang mnjadi sorotan di Indonesia adalah Gizi Masyarakat, pembahasan berkaitan dengan gizi memang menjadi hal menarik, karena masih banyak masyarakat yang dalam pemenuhan gizinya belum mendekati normal, artinya anka kecukupan gizi di masyarakat Indonesia terutama di pedesaan masi sangat rendah. Banyak masyarakat yang masih mngkonsumsi makanan satu macam sehingga nutrisinya tidak optimum, hal ini juga yang menyebabkan banyaknya kasus seperti busung lapar kurang gizi dan lain sebagainya. Pentingnya kesehatan masyarakat harus benar-benar mendapatkan perhatian, karena masyarakat bisa menjadi cerminan suatu Negara. Bagaimnapun Negara bisa terus berkembang karena ada masyarakat yang menyumbangkan SDMnya.

Sumber daya manusia yang baik tentu dari masyarakat yang sehat. Masalah gizi menjadi sorotan khusus karena di Indonesia sendiri masalah ini belum bisa teratasi secara tuntas, sebenarnya banyak aspek yang melingkupi kesehatan masyarakat, seperti Epidemiologi, Biostatistik, Kesehatan Lingkungan, Pendidikan Kesehatan dan Perilaku, Administrasi Kesehatan Masyarakat, Kesehatan dan Keselamatan Kerja serta Kesehatan Reproduksi.

Pendidikan Masyarakat

Pendidikan masyarakat adalah suatu gagasan berupa konsep penelitian dan penerapan pengembangan di masyarakat, sebagai fungsi untuk membimbing dan meningkatkan pola pikir masyarakat terhadap semua perkembangan dunia yang sedang terjadi saat ini.
Dulu, ada sebuah program pemerintah yang banyak diikuti oleh masyarakat karena programnya yang menyenangkan dan bisa memeberikan pendidikan secara gratis kepada mereka, yang disebut Kelompencapir atau Kelompok Pendengar Pembaca dan Pirsawan.
Karena dulu media pendidikan untuk masyarakat hanya ada satu stasiun televisi saja, maka hampir semua golongan masyarakat menengah ke bawah sering menyaksikan acara di tv. Program ini termasuk dalam satu program pendidikan masyarakat.
Pendidikan masyarakat ini dalam kegiatannya membahas mengenai berbagai macam isu yang hadir di masyarakat. Mereka yang tergabung dalam progrm ini akan berdiskusi, berbagai pengalaman membaca buku ataupun sekedar membicarakan isu hangat yang sedang banyak dibicarakan di masyarakat. Tentunya semua hal yang mereka bicarakan itu bermanfaat dan bukan sekedar gosip saja.
Manfaat bagi masyarakat golongan menengah ke bawah adalah mereka menjadi semakin tinggi tingkat kesadarannya akan berbagai macam hal penting yang terjadi di masyarakat kita. Pola pikirnya menjadi berubah dan semakin terbuka dengan berbagai perubahan dunia. Dengan arti lain, wawasan mereka semakin luas dengan adanya program ini.
Semua kegiatan yang dijadwalkan dalam pendidikan masyarakat ini disesuaikan dengan kemampuan ekonomi mereka. Ada yang bertanam sayuran dan bumbu dapur, ada yang beternak ikan, ayam, ataupun kambing.
Kegiatan keterampilan khusus untuk wanita seperti menjahit, berkreasi dengan barang bekas, hingga membuat menu sederhana namun bisa penuhi gizi dengan menggunakan bahan masakan yang berasal dari halaman belakang mereka. Tidak diperlukan banyak biaya untuk melaksanakan program ini dan semuanya itu penuh manfaat bagi kehidupan mereka.
Pendidikan masyarakat ketika itu mempunyai nilai yang cukup tinggi. Mereka lebih memiliki tenggang rasa dengan warga yang masih kekurangan. Mereka saling menolong tanpa rasa iri. Begitu juga dengan kegiatan seputar olahraga dan PKK. semua kegiatan itu bersifat positif dan menjadi ajang pembinaan yang efektif.
Ada sekolah khusus untuk para orang tua yang buta huruf, mereka sangat menikmati program ini dan berusaha untuk membuka wawasan pikirannya yang lebih luas lagi sehingga kesenjangan dengan mereka yang mengenyam pendidikan di sekolah semakin kecil. Pendidikan masyarakat yang memberikan banyak manfaat dan keguanaan bagi kehidupan masyarakat kelas bawah.

Lapak Sarmili

Kondisi pendidikan di wilayah Tangerang Selatan tidak serta merta sudah memuaskan. Secara umum, memang dapat kita lihat dari banyaknya jumlah sekolah yang didirikan dan fasilitas pendidikan lainnya, bahwa pendidikan di sana sudah cukup memadai. Namun demikian, masih ada sebagian saudara kita yang mengalami kendala terkait pendidikan ini. Di suatu kawasan bernama “Lapak Sarmili” terletak di Kelurahan Jurangmangu Timur, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan.
Kendala utama yang mereka hadapi adalah biaya. Walaupun kita sudah mengetahui bahwa anggaran pendidikan ditetapkan sebesar 20% dari APBN, masalah biaya tidak seharusnya muncul di permukaan sebagai kendala utama bagi masyarakat untuk mengenyam pendidikan. Pada kenyataannya berkata lain, masih ada beberapa anak-anak di kawasan Lapak Sarmili yang putus sekolah dengan alasan kendala biaya yang tidak ada. Apabila masalah ini ditelaah lebih mendetail, memang seharusnya biaya sekolah saat ini (khususnya negeri) sudah jauh lebih terjangkau dengan adanya program BOS dari pemerintah, kemudian apa yang membuat mereka putus sekolah?
Faktor keseriusan orang tua. Hal ini miris sekali untuk diketahui bahwa salah satu penghambat majunya pendidikan anak di Indonesia adalah orang tua mereka sendiri. Masih dengan alasan yang sama, biayapola pikir mereka terhadang oleh keadaan jangka pendek yang memerlukan uang untuk kehidupan sehari-hari. Sebagian besar dari orang tua di kawasan lapak berpikir lebih baik anak mereka menghabiskan waktunya untuk membantu mencari uang dengan memulung dan/ atau meminta-minta daripada waktu mereka dihabiskan untuk sekolah. Sebagai orang tua demi menambah penghasilan, melepaskan keinginan untuk menyekolahkan anaknya sendiri adalah termasuk perbuatan dzalim karena telah mengambil hak anak untuk mengenyam pendidikan yang layak.
Kebiasaan orang tua untuk memerintahkan anaknya untuk bekerja di sana juga dialami oleh mereka yang bersekolah. Tidak hanya yang putus sekolah saja, tetapi juga anak yang bersekolah pun harus melakukan pekerjaan memulung dan/ atau meminta-minta selepas pulang sekolah. Hal itu mengakibatkan kemampuan dan prestasi akademis mereka terbilang kurang. Selain setiap pulang sekolah harus bekerja yang mengurangi waktu mereka untuk belajar, pada saat di rumah pun mereka jarang belajar karena tidak ada yang mengontrol dan mengawasi mereka dengan orang tua yang acuh akan hal itu. Oleh karena itu persoalan tersebut sangat membutuhkan perhatian khusus dan mendalam agar kondisi pendidikan di kawasan tersebut mengalami perbaikan.

Kolom Usaha Kecil

Usaha Kecil ini merupakan kolom informasi usaha kecil yang diasuh oleh Tim Redaksi bekerja sama dengan LKMS BMT KAS dan LAZ Insan Sejahtera, jika ada usaha kecil yang ingin diliput oleh Tim Redaksi silahkan menghubungi email redaki kancilnews@gmail.com dengan Subjek Usaha Kecil.

Salam Perkenalan

Selamat datang di Portal Warga Kota Tangerang, yang mengabarkan kegiatan dan peristiwa yang terjadi di sekitar Anda.

Bagi yang berminat bergabung bersama komunitas KancilNews.com, silahkan kirimkan nama, alamat, nomor telepon dgn subjek daftar komunitas ke email kancilnews@gmail.com